Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Yang Tersesat

Andai kutahu jalan kembali Ku akan kembali secepat mungkin kerumah Rumah yang tidak pernah mengenalkanku arti jatuh tertunduk Sekarang, aku tersesat dalam ruang fana Dimana aku berada? Dia yang bersamaku sedari langkah yang kutinggalkan dari depan pintu rumah Melepaskan ku ditengah jalan, layaknya melepas ikan kecil di luasnya lautan Masihkan mata ini menempel pada tempatnya? Atau memang yang kulihat ini adalah nyata? Sendiri diantara hiruk pikuk 'kesunyian' yang mendera

Kan, Aku Mulai Berharap Lagi

Dan sekarang, Aku mulai lagi menyangkalnya Menyangkal rasa yang ada Aku ingin biasakan hati ini yang selalu menciptakan 'harap' Aku ingin mandirikan hati ini yang selalu menggantungkan asa Mencoba menahan ego dan keinginan hati Berteguh dengan pendirian di hari-hari kemarin Ya, 'hari-hari kemarin' yang sangat jauh dari 'hari kemarin' dan 'sekarang' Kemana pendirianku saat itu? Kenapa hari ini aku berharap lagi?

Harusnya, Aku Biasa Saja!

Hari ini, aku akan mulai biasa saja Melalui hari seperti biasanya Seperti tidak ada apa-apa Akan kututup semua harapan yang mulai bangun satu demi satu Semua seperti tak pantas untukku Memang tak ada tempat bagiku untuk menulis selain diatas kertas ini Diatas hamparan kosong, Tak ada satupun yang dapat menanggung beban yang kubawa selain kertas kosong Biarlah lembaran ini menjadi saksi bisu atas apa yang telah kulewati dan kurasakan Memang tak mudah bagiku untuk bisa melalui hal seperti ini, apalagi sendirian Sepi, dan sunyi Seperti ada hal yang selalu kutunggu Tapi, kuyakini saja Diluar sana entah dimana, pasti banyak sekali orang-orang yang merasakan apa yang kurasakan Namun, yang bisa kulakukan hanya terus bersyukur dan tetap bersyukur Sebelum Tuhan, 'menyapaku' karna terlalu mengejar ciptaan-Nya Aku harus bisa melupakan anganku Dan mungkin bersiap untuk melupakannya Ya, harusnya aku biasa saja!

Haruskah Aku

Haruskah ku, Haruskah ku lawan waktu yang sedang tidak berpihak? Haruskah ku menyerah dengan apa yang ada dihadapan? Haruskah ku biarkan hujan menghapus jejakku? Haruskah ku biarkan angin membawa segala angan? Haruskah ku tatap langit dengan segala ketinggiannya? Haruskah pertanyaan-pertanyaan ini sebaiknya tidak kulontarkan?

Akankah Selalu Begini?

Apakah akan selalu begini? Hanya terdiam dan tersesak saat mendengar namanya? Menyebut namanya? Memikirkan semua tentang dirinya? Apakah tidak ada akhir dari semua ini? Akhir yang tak ingin melukai hati Akhir yang hanya ingin menyunggingkan sebuah 'senyum' Akhir yang tak akan pernah merasakan hal ini (lagi) Dapatkah waktu berpihak pada jiwa tak bertuan ini?

Sudah Melangkah ataukah Hanya Istirahat?

Kini, aku seperti jauh melangkah kedepan Jauh meninggalkan papan namanya Jauh dari semua cerita tentangnya Tak ada lagi kusebut namanya dalam doa Tak ada lagi namanya kuharap dalam hati Tak ada lagi kesempatan untuk bertemu dalam "harap" Aku seperti tidak akan pernah lagi bertemu dengannya Aku seperti lelah karena terlalu kencang mengejarnya Dan sekarang, Aku tertinggal jauh Tapaku sudah mulai luka Semangatku sudah mulai redam Nafasku sangat terengah-engah Karena berhenti untuk mengejarnya Aku sangat butuh sandaran Aku sangat butuh tompangan Aku sangat butuh istirahat Ya, Istirahat dalam sebuah "harap"

Angkat Kepalamu! Move on!

Apa mungkin rasa yang telah mati bisa bangkit kembali? Sekian lama sudah terkubur Sekian lama sudah terlupakan Sekian lama sudah tak teringat Aku tak akan percaya pada hati yang datang dua kali dengan perasaan yang sama Terhadap orang yang sama Rasa itu telah mati Rasa itu telah kandas Rasa itu telah terlupakan Entah kemana perginya Apa benar hanya dengan satu kata "hai" Merusak move on seluruhnya? Kurasa tidak, Itu hanya persepsi bagi mereka yang tak ingin maju Itu hanya harapan bagi mereka yang masih "menyimpan" terlalu lama Terlalu lama menyimpan perasaan itu sendiri Terlalu lama menyimpan tumpukkan rindu dihati Terlalu lama menyimpan rasa "ingin tahu" Terlalu lama menyimpan rasa berkabung dihatinya 'Tentangnya, tentangnya, tentangnya' Mengapa tak kau angkat saja kepalamu? Dan mencoba melangkah maju kedepan? Karena, matamu masih berfungsi untuk melihat dengan benar Kakimu masih utuh untuk berjalan Tanganmu masih sanggup b...

Mengapa?

Terkadang kumenangis melihat sekelilingku Aku melihat, membandingkan, merasakan Mengapa begitu berbeda Mengapa begitu terasingkan Mengapa Tuhan? Mengapa aku tak ditakdirkan seperti mereka? Mengapa aku selalu berada diposisi terpojokkan? Mengapa bumi dan langit tak pernah berpihak kepadaku? Mengapa tak ada satupun yang melihat keberadaanku? Mengapa tak ada kata “adil” dalam kamus hidupku? Mengapa? Tidakkah kau melihat setiap derai air mata yang membasahi pipiku? Setiap senyuman yang penuh kepalsuan Setiap tawa yang penuh kesandiwaraan Kebahagiaan yang tak semestinya.. Kebahagiaan yang memiliki tanda tanya.. Kebahagiaan yang menyembunyikan kerahasiaan Kebahagiaan yang penuh kefanaan Kebahagiaan seperti ini yang tak pernah kuinginkan Kebahagiaan yang selalu menyayat hati hari demi hari Kebahagiaan yang berdiri diatas kegelisahan…

Sang Perindu

Oh inikah yang dinamakan rindu tak bertuan? Membiarkan kabut rindu ini menyelimuti seluruh isi hati Siapakah sang perindu? Siapakah sang pemilik rindu? Yang benar saja! Sang pemilik rindu tak akan pernah tahu, Rindu siapa yang memihaknya Tapi yang pasti, Sang pemilik rindu adalah pujaan sang perindu Keduanya takkan saling seirama Sang perindu berperisaikan oleh kemunafikan dan keegoisan Ya munafik, Sang perindu tak pernah memberikan kesempatan sang pemilik rindu untuk mengetahuinya Ia tak pernah membaginya Ya, Dialah Sang Perindu.

Dia, Pemenangku

Tak dapatkah kau dan aku bersatu? Entah darimana kuharus mengawalinya Yang pasti hatiku miliknya Caranya menatapku begitu indah Caranya memperlakukanku begitu mewah "Dialah orangnya!" hatiku membisik Ingin sekali ku menyentuhnya Merasakan hadirnya Merasakan hangat sentuhannya Merasakan belaian lembut tangannya Tapi, dunia seolah mengalahkanku Apakah dunia? Atau, memang waktu yang tak pernah memberikan keramahannya? Inikah yang dinamakan mengagungkan cinta seorang tuan? Ya, cinta ini memang tak bertuan Bahkan aku pun tak merasakan kehadirannya Bagaimana caranya untuk merasakan? Bertemu pun hanya dalam angan, Yaa, angan yang tercipta dari atom-atom kerinduan.

Rindu

Ternyata yang kupermasalahkan selama ini adalah "kehadiranmu" Pulanglah.. Berbaliklah.. Tengoklah wajahku.. Jangan melangkah lagi, Jangan berpetualang lagi, Bukan kehilangan yang kutakutkan Bukan raga yang kurisaukan Tapi... Aku takut rindu ini selalu menyelimuti seumur hidup Aku takut rindumu yang selalu dinanti Aku takut rindu ini tak pernah berganti Jangan membuatku rindu Bagiku ini sangat menusuk inti jantungku Jangan buatku tersiksa Jangan buatku sakit Jangan! Kembalilah...

Cinta? Keyakinan?

Tuhanmu, Tuhanku juga Hanya saja cara panggilan kita yang berbeda Darahmu, darahku juga Hanya saja golongannya yang berbeda Lalu, apa kita tetap beda? Tuhan saja tak pernah membedakan Tapi bagaimana kita bisa satu? Haruskah Tuhan kita akur? Bukankah Tuhan hanya satu?

Still Into You

Andai Tuhan mengerti Kabarnya adalah semangatku Melihat notifnya diponselku pun adalah suatu bahagia untukku Kini itu sudah tak berlaku lagi Karna, aku yang menarik diri untuk pergi Haruskah ku kembali untuk menyapanya lagi? Tidak, ia tidak menginginkanku Ya, ya aku harus pergi Sebetapapun hatiku ingin, Pikiranku ingin, Tapi Tuhanku layaknya mengisyaratkan "melangkahlah, jangan kau tunggu ia lagi" Andai Tuhan mengerti... Inginku habiskan separuh waktu hidupku untuk mengenalnya Andai Tuhan mengerti... Inginku berbagi cerita hidupku dengannya Andai Tuhan mengerti... Inginku menyampaikan betapaku merindunya Andai Tuhan mengerti... Inginku menjadi sandaran atas semua penatnya Andai Tuhan mengerti... Aku membutuhkan Ridho-Nya

Miracle?

Ini jawaban Tuhan melalui perantara Ya... Seolah menjawab tidak pada pilihan yang ada Ku tahu Dialah Maha Penabur Keajaiban Ku tak pernah percaya jika Ia membiarkanku terjatuh lagi dan lagi Tapi yang tak pernah ku tahu, Dapatkah keajaiban berada diantara "jawaban-Nya" dan "pilihanku" ?

Harapan Yang Hilang

Aku ingin menjadi sesuatu yang bisa kau tuju Aku ingin menjadi sesuatu yang bisa kau sandar Aku ingin menjadi sesuatu yang dengannya kau bisa bahagia Tapi aku tau diri, aku sadar aku tak bisa Bahkan menyelami kehidupanmu saja aku tak mampu Bagaimana bisa ku menjadi rumah untuk lelah dan letihmu?

Dimana Muara Hati

Oh Tuhan... Haruskah benar-benar kuhentikan langkah untuk menggapainya Untuk mengharapkannya, Untuk membayangkannya, Hati ini terlalu rapuh untuk mengingat semua tentangnya Hati ini terlalu letih berharap dalam doa Haruskah kuubah setiap titik haluan yang selalu mengikat namanya? Haruskah kubiarkan desiran air pantai meninggalkan pesisir? Hingga tak ada kutemukan tentangnya, lagi Haruskah kutemukan segitiga bermuda? Agar kutahu, bagaimana rasanya menghilang dalam pusaran air yang entah dimana akan bermuara Layaknya perasaan ini yang entah akan sudah.

Waktu, Berpihaklah Kepadaku

Salahkah bila kusimpan rasa ini terus menerus? Salahkah bila hati ini tak ingin pindah dari rasa nyamannya? Salahkah otak ini membiarkan hati dibayangi oleh perasaan yang tiada bertuan? Salahkah naluri ini selalu mengikuti intuisinya? Apa benar hanya hati yang salah mengartikan? Apa arti yang sebenarnya? Dimana kuharus temukan kebenaran? Haruskah kutunggu hingga waktu menunjukkan dentumannya? Haruskah kunanti hingga waktu mengatakan semuanya? Siapa? Iya siapa yang harus bertanggung jawab? Siapa yang harus membalas tepukkan hati ini? Siapa yang harus menopang beban hati ini? Siapa yang akan memapah hati ini? Hati yang selalu rapuh, Hati yang selalu lemah, Hati yang selalu bergantung, Hati yang selalu mencipta sebuah harap, Hati yang selalu berandaikan angan, Hati yang selalu berpijak ditanah yang sama, Oh waktu... Bersahabatlah dengan hatiku!

Bahagianya, Surat Kabarku

Diatas bukit inginku menulisnya Senyuman bagai sentruman listrik yang menyambar Teduh matanya yg membuatku selalu ingin melihat Tak perlu angin tahu, cukup sama sama rasakan bahagiaku Tak perlu burung ikut berkicau, nyanyikan saja irama indah tuk mengiringi kebahagiaanku Namun, cakrawala waktu perlu tahu, agar ia bisa membantuku melupakannya.

Bertahan Dalam Harap

Kelak ku akan pergi perlahan meninggalkannya Kelak ku akan siap melangkah 1000x lebih cepat Kelak ku akan memecahkan tempurung diatas kepalaku Kelak ku tak akan berhenti sampai Tuhan berkata "cukup, istirahatlah dalam kedamaianmu"

Semogaku, Untukmu

Kita memang tidak sedekat nadi Kita juga tidak sedekat detak Bahkan kita tidak sedekat "aku-kamu" Tapi, kita sedekat pandangan Saat kamu memandangku Dan aku memandangmu Mata mu begitu teduh Senyum mu apalagi Bisakah kita kembali pada awal "hai", Yang menyapa kita satu sama lain Iya bukan aku, tapi kamu Kamu yang memulai sapaan itu Iya salah ku, Salahku sudah terbenam dalam sapaan ramah itu Kini kita berjauhan, sangat berjauhan Kita tidak mengenal satu sama lain Dan kita sudah menjadi orang lain Yang sama hanya, Kita beratapkan langit yang sama Memandang bulan di arah yang sama Kusemogakan semogaku, Berharap kamu melakukan hal yang sama Tidak perduli untuk siapa, Yang pasti kupersembahkan semua takdir "semogaku" kepada-Nya

Dimana Peran Tuhan?

Tidakkah Tuhan tahu? Yang sangat kuingin dan harapkan Tapi terbalas dengan kekecewaan Tidakkah Tuhan tahu? Bagaimana perasaanku di detik ini Bagaimana hancurnya hatiku di detik ini Melihat harapanku berlalu begitu saja Tidakkah Tuhan tahu? Penuhnya harapan dan angan yang tercipta untuk bisa mewujudkannya Namun, sirna begitu saja Tidakkah Tuhan tahu?

Dimanakah Rasa Itu?

Bila waktu tak dapat menyatukan kita kembali.. Maka aku takkan pernah berharap pada waktu yang katanya akan indah pada waktunya.. Andai aku bisa mengendalikan waktu.. Pasti akan kuatur semua waktu yang akan kuhabiskan berdua hanya denganmu.. Jika tak kutemukan jalan kembali Mungkin akan kuukir kisah ini sendirian, meskipun perih telah merasukiku Walau waktu yang pernah kulewati bersama hanya sekejap Itu sangat membuatku berarti.. Takkan pernah kulepaskan hingga ku tahu, sampai kapan kusanggup bertahan.. Atas dasar perasaan ini, kuwakilkan seluruh rasa yang menjalar disekujur tubuhku melalui elektronik kata Perasaanku? Iya perasaan yang tersia-siakan.

Mengertilah, Tuhan

Hidup memang sementara.. Sementara senang Sementara sedih, dan Sementara didunia ini Entah seperti mimpi atau khayalan Yang pasti kematian itu nyata adanya Kematian yang terdengar sangat biasa Yang sebagian orang hanya berpikir kematian itu hanyalah tidur panjang yang tenang.. Tenang? Tidak sama sekali, sebenarnya.. Kematian adalah akhir dari kehidupan manusia di bumi Yang didalam kuburnya akan tersiksa dengan segala perbuatan buruk yang pernah dibuat oleh manusia itu sendiri Andai kematian bisa diprediksi, mungkin manusia dibumi ini tak akan pernah lalai akan kewajibannya pada Tuhan.. Andai Tuhan mengerti..

Rasa Yang Tersirat

Memang... Penyesalan itu selalu datang diakhir Penyesalan yang tidak pernah terfikir sebelumnya Bagaimana bisa terfikir? Terlintas pun tidak pernah dibenak ini Penyesalan yang seharusnya tidak hadir secepat ini Bagaimanapun, ia datang tanpa diundang Menyesal akan adanya perpisahan ini Dari sebuah pertemuan yang tak sengaja Pertemuan yang menciptakan rasa nyaman Rasa yang tak pernah lepas Rasa yang begitu diagungkan Rasa yang selalu ingin dimiliki Ya.. Sebut saja ia "cinta" Cinta yang selalu didambakan Cinta yang selalu ditunggu akan hadirnya Cinta yang selalu menyiratkan rasa.. Ya, cinta.

Sebuah Tanya

Sanggupkah ku hentikan semua? Saat semua ini terasa begitu indah Saat dunia bak milikku dan pujaan hati Ku merasa dunia menjawab semua tanyaku Tanya yang selalu diawali dengan “kapan” Tanya yang dulu tak sanggup kulontarkan Tanya yang selalu menghujamku dengan air mata Tanya yang selalu menyesakkan hati Tanya yang selalu menimbulkan perih Tanya yang selalu membuatku ingin menangis dan sembunyi Kini tanya itu seperti hilang bak ditelan segitiga bermuda Kini kudapatkan semua tanya itu Tanya yang memiliki jawab Tanya yang sudah bertuan Tanya yang membuatku menyunggingkan senyum kecil dibibir ini.

Jingga dan Senja

Gambar
Haruskah jingga meninggalkan senja? Padahal jingga sangat ingin menemani senja hingga sang fajar tak terlihat lagi. Haruskah jingga melupakan senja? Padahal jingga sangat ingin menghabiskan waktunya dengan senja. Tapi seolah waktu tak memberikan keramahannya pada jingga dan senja, Sehingga jingga harus bisa pergi melupakan angannya untuk bisa menghabiskan waktu dengan senja. Haruskah senja ditemani oleh awan nan abu dan pudar? Tak bisakah jingga mampir sejenak saja? Jingga memang tak selalu ada. Tak setiap petang jingga datang. Tapi bisakah awan nan abu dan pudar istirahat sejenak? Karena kehadiran jingga pun tak se-setia awan nan abu dan pudar. Yang setiap petang selalu menemani senja hingga terbenamnya sang fajar di ufuk barat itu.